Rabu, 27 Oktober 2010

Sekitar Kerbau Kroya dan Kuda Liar (Cerita Untuk Seorang Kawan Office Boy)

Oleh: Sally Rosalina

Saat istirahat siang di kantor, aku melihat Ajat sedang duduk di sebuah sofa butut sambil membaca koran dengan kening yang berkerut-kerut. Hari ini koran-koran sedang mengangkat berita tentang pemakaman seorang sastrawan dari Jogjakarta, W. S. Rendra. Ajat sejak awal begitu antusias dengan berita tentang mangkatnya sang maestro besar Indonesia itu. Ketika aku duduk di hadapannya, dia langsung melirikku, lalu mengangkat koran, ditunjukkannya headline berita koran itu ke mukaku.

“Lihatlah ini,” katanya. “Orang berduyun-duyun dari seluruh pelosok negeri hanya untuk menyaksikan penguburannya.”

Aku melihat sebentar foto ratusan atau mungkin ribuan manusia mengantarkan jenazah Willy Surendra Rendra.

“Sepertinya mereka pun datang untuk untuk mengucapkan selamat tinggal, dan berdoa,” kataku.

“Dia dulu pahlawanku, Pak.”

“Sekarang?”

“Setengah pahlawan.”

“Setengahnya lagi?”

“Hanya penulis sajak biasa.”

“Kenapa begitu?”

“Beberapa tahun ini sudah tidak terdengar lagi ringkiknya.”

“Ooh.. sudah terlalu tua untuk meringkik barangkali?”

“Atau mungkin sudah terlalu gemuk?”

Aku dan Ajat tertawa. “Mungkin juga.”

“Hush, tidak baik membicarakan orang yang baru saja wafat.”

Ajat menutup koran dan menaruhnya di bawah meja. Dia segera merebahkan punggungnya di sandaran sofa, memanfaatkan sisa waktu istirahat yang sangat singkat ini. Beberapa hari terakhir ini, aku biasa menghabiskan waktu istirahatku berbincang dengannya. Aku kira dia orang paling jujur di kantor ini, walau kejujurannya terkadang kasar, aku tahu itu meluncur langsung dari hatinya.

Kini, dia sedang memejamkan matanya, lalu membukanya kembali.

“Bertahun-tahun lalu, Pak” katanya mulai bercerita. “Aku hanyalah anak gembala dari kampung di pelosok kabupaten Banjaran. Setiap hari, sehabis pulang sekolah, aku bersama kakak-kakakku membantu Abah membajak sawah dan ladang jagung. Lihatlah kulitku, hitam keminyak-minyakan. Berbeda sekali dengan kulit bapak yang kuning pucat seperti jagung muda.”

Aku tersenyum. “Ladang kita berbeda, Ajat. Ladangmu harus tumbuh dan dibajak di bawah terik matahari, kau tidak bisa mematikan matahari di siang hari. Sedangkan ladangku, kau bisa lihat sendiri, di bawah atap gedung ber-AC, bersama orang-orang gila kerja dan bermuka dua. Aku membajak di atas kertas-kertas dan komputer yang kadang-kadang menjadi sialan kalau sedang rusak atau mati listrik. Aku bisa bekerja hingga malam larut. Saat itu, kau pasti sudah berintim-intiman dengan istri dan anak-anakmu.”

“Benar, benar sekali, Pak. Untuk itu aku selalu bersyukur, hidup bisa begitu sederhana dan menyenangkan bila kita sudah kembali ke rumah. Coba Pak, bandingkan dengan aku yang sedang berada di tempat ini sekarang. Di sini aku ditendang ke lubang toilet. Kerjaanku kalau tidak merokok di dapur, mengepel, disuruh-suruh, dan pastinya sedang menggosok kakus. Seperti itu, setiap hari, bertahun-tahun, menyikat lubang yang sama.”

Sejenak kami terdiam. Permasalahan kami sebenarnya memiliki akar yang sama, kami sedang menjadi manusia-manusia tragis, sama-sama menjadi budak. Bedanya hanya tampak dari luar. Ajat kotor dan bau, tapi dia jujur, pekerjaannya tidak menuntutnya untuk menjadi kotor secara mental. Sedangkan aku, berkerah putih, berdasi, bersepatu mengkilat, tapi seringkali aku tidak bisa menjamin integritasku sendiri.

Menghisap sebatang lisong, melihat Indonesia raya,” katanya tiba-tiba. Nampaknya Ajat sedang mengutip sebuah sajak. “Mendengar 130 juta rakyat. Dan di langit, dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka.

“Sajak yang bagus,” kataku.

“Itulah yang dikatakan Rendra, si Kuda Liar. Aku pernah mendengarnya dari guru SMPku di kampung. Kurasa sajak itu sengaja dibuat untukku. Aku benar-benar harus membersihkan kotoran cukong-cukong kotor itu.”

“Ku harap aku bukan salah satu dari cukong-cukong itu.”

“Oh, maaf, Pak. Tentu saja bapak bukan bagian dari mereka. Bapak orang baik.”

“Ah, kau bisa saja, Jat. Tapi aku pun tak mau menjadi bagian yang diberaki.”

Kami tertawa. Ironis.

“Asal kau tahu, Jat, waktu kecil aku pun sering pergi di sawah.”

“Membajak?”

“Bukan, hanya bermain-main. Aku ke sana hanya untuk mendengar kakekku bersenandung Jawa sambil sesekali memecut kerbaunya.”

“Jawa? Bapak dari Jawa?”

“Ya.”

“Bagian mana?”

“Kroya.”

“Kroya? Ah, kebetulan sekali. Lebaran tahun lalu sepupuku baru saja membeli kerbau dari Kroya. Saat ia akan membajak, kerbau itu tak mau melangkah, sepertinya sedang malas. Dia pecut berkali-kali, reaksinya hanya langkah-langkah tak terarah.”

“Lalu?”

“Lalu, selidik punya selidik, saat sepupuku itu membajak, ia memakai perintah dalam bahasa Sunda, senandungnya pun senandung Sunda. Si kerbau Kroya mana mengerti. Sepupuku berhari-hari melatihnya dalam bahasa Sunda, dan si kerbau akhirnya mau membajak dengan benar.”

Aku tertawa mendengarnya.

Tiba-tiba dari arah lantai dua terdengar suara lengkingan seorang perempuan.

“Ajaaat, Ajaaat, ACnya tiba-tiba matiiii. Cepat nyalakaan!”

Kami berpandangan.

“Baiklah, Pak. Suara tanda berakhirnya istirahat nampaknya sudah terdengar.”

Aku tersenyum. Dengan cekatan Ajat pergi dari ruang istirahatnya. Aku sendiri pun kembali membajak, berharap untuk tidak mengotori dan dikotori kantor ini.

6 komentar:

  1. lely yuliawaty28 Oktober 2010 06.41

    “Ladang kita berbeda, Ajat. Ladangmu harus tumbuh dan dibajak di bawah terik matahari, kau tidak bisa mematikan matahari di siang hari."

    BalasHapus
  2. Keren sall. Aku suka pemilihan diksinya. Bagus2...
    Alurnya juga teratur, simple tapi mengandung pesan. Ayo nulis lebih banyak lagi!

    Kalo bagian yg enggak keren, hmm teu aya sall..hehehe

    Dimas Abi

    BalasHapus
  3. MENULIS ATAU MATI!! hehehe i love this motto.. keep writing miss!! i like ur blog.. two thumbs up!

    BalasHapus
  4. siapakah c ajattt?? jd penasaran

    BalasHapus
  5. wat an awesome writing..love it a lot!

    BalasHapus
  6. Sama² jd budak diladang berbeda..nice..
    :D
    Jie

    BalasHapus